Internasional

AS Tak Punya Teknologi Lawan Rudal Hipersonik Rusia dan China

Rabu, 28 Maret 2018 | 23:57 WIB - by rjs,tarungnews.com - 317 pembaca

Jakarta,TarungNews.com - Rusia dan China dilaporkan tengah mengembangkan senjata hipersonik "secara agresif" dan saat ini Amerika Serikat tidak memiliki teknologi untuk melawan itu.

"Kami telah melihat mereka menguji coba senjata-senjata itu. Dan kami tidak memiliki teknologi pertahanan yang mampu menangkis ancaman senjata seperti itu," ujar Pemimpin Komando Strategis Amerika Serikat, John Hyten.

Hyten mengatakan bahwa meski senjata itu belum bisa dioperasikan dalam beberapa tahun ke depan, AS harus segera membarui pertahanan rudalnya.

Jika terlambat, AS tidak akan bisa mendeteksi saat senjata hipersonik Rusia dan China itu beroperasi.

"China telah menguji coba kapabilitas senjata hipersoniknya. Rusia pun begitu. Kita juga harus. Kapabilitas senjata hipersonik adalah tantangan yang signifikan," kata Hyten.

Senjata hipersonik pada umumnya didefinisikan sebagai alat pertahanan yang memiliki kecepatan tempuh lebih dari 6.125 kilometer per jam.

Pada pertengahan Maret lalu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim berhasil menguji coba salah satu rudal hipersonik mereka.

Peluru kendali itu bisa meluncur sejajar dengan jalur pesawat terbang berkecepatan tinggi. Lintasan yang lebih rendah dari biasanya ini membuat rudal hipersonik sulit dilacak.

Moskow juga mengklaim tengah mengembangkan drone hipersonik bawah air.

Hyten dan sejumlah pejabat militer lain menganggap sistem radar dan satelit pelacak rudal yang dimiliki AS saat ini tidak cukup membendung senjata generasi baru milik Rusia dan China tersebut.

"AS akan membutuhkan serangkaian sensor berbeda agar bisa melacak ancaman senjata hipersonik tersebut. Musuh sangat mengetahui hal itu," katanya kepada CNN.

Menurut Hyton, Pentagon saat ini tengah meninjau sistem pertahanan rudal AS guna membantu menentukan pembaruan yang diperlukan untuk menghadapi senjata baru musuh.

Kementerian Pertahanan juga tengah membuat konsep alat pencegat rentetan serangan rudal musuh. Teknologi anti-rudal AS saat ini hanya mampu menembak jatuh beberapa rudal musuh dalam satu serangan.

Selain itu, AS juga perlua memperbarui kapabilitas kemampuan sensor rudal agar mampu melacak karakteristik sekaligus menentukan respons yang tepat saat menghadapi ancaman.

Hyton juga menyerukan peningkatan kapabilitas hulu ledak rudal-rudal AS.

"Sama halnya seperti masalah nuklir Korut. Jika mereka terus mengembangkan teknologi nuklir, bagaimana pun mereka akan sampai pada titik keberhasilan membangun senjata nuklir. Rusia akan seperti itu juga, begitu pun China. Dan kita arus mencari tahu cara mengatasinya," katanya. (has)

Sumber : CNN Indonesia

Rjs,tarungnews.com