Lingkungan

Kondisi Pencemaran Sungai Citarum Sudah Mencapai Tahap Kritis

Selasa, 5 April 2011 | 23:38 WIB - by Rudy Sanjaya - 7.805 pembaca

Lintas Jabar,Tarung News.

Sungai Citarum mengalir dari hulu di daerah Gunung Wayang, di sebelah selatan kota Bandung menuju ke utara dan bermuara di Karawang. Panjang Sungai Citarum sekitar 269 km, aliran Sungai Citarum melewati Wilayah 9 Kabupaten dan 3 kota ( Kab Bandung, Kab Bandung Barat, Kab Cianjur, Kab Purwakarta, Kab Karawang, Kab Bekasi, Kab Subang, Kab Indramayu, Kab Sumedang, Kota Bekasi, Kota Bandung, Kota Cimahi ) Tenaga listrik yang di hasilkan 1,400 Megawatt, dan mengairi areal irigasi 420.000 hektar.   

Sampai dengan tahun 2008-2009 kualitas air sungai di Jawa Barat sudah sangat memperihatinkan. Dari hasil penelitian yang di lakukan terhadap 7 sungai utama yaitu Cimanuk, Citarum,Cisadane,Kali Bekasi, Ciliwung, Citanduy, dan Cilamaya, kesemuanya menunjukan status D atau kondisi yang sangat buruk.

Pada DAS Citarum tidak satu lokasipun yang kualitas airnya memenuhi criteria mutu air kelas II, tingginya kandungan koli tinja, oksigen terlarut, BOD,COD dan zat tersuspensi pada semua lokasi. Khusus untuk parameter oksigen terlarut yang merupakan indikator kesegaran air, pada beberapa lokasi kadarnya sangat rendah bahkan ada yang mencapai nol, yaitu daerah, Sapan,Cijeruk,Dayeuh Kolot dan Burujul.pencemaran air sungai tersebut di akibatkan oleh terlalu banyaknya limbah yang masuk ke aliran sungai, limbah tersebut berasal dari limbah industri, domestik, rumah sakit, peternakan, dan sebaigainya.

Dari data kualitas air yang di ukur kondisi Sungai Citarum sudah masuk ke tingkat pencemaran berat, dan sudah mencapai tahap kritis. Banyak parameter kunci yang sudah melebihi baku mutu, baik dari limbah organik hingga kandungn logm berat. Sekitar 40% limbah Sungai Citarum merupakan limbah organik, dan rumah tangga. Sisanya merupakan limbah kimia atau industri. Demikian pula  halnya dengan dengan kondisi air tanah, pengambilan air tanah yang meningkat dari tahun ke tahun berimplikasi terhadap penurunan muka air tanah.

Penurunan muka air tanah secara drastis terutama terjadi di Cekungan Bandung yang mencapai penurunan sekitar 2 – 5 m per tahun. Persoalan lingkungan lainya yang di hadapi Provinsi Jawa Barat, adalah belum tertanganinya kerusakan kawasan pesisir. Di wilayah pesisir utara Jawa Barat, kerusakan kawasan di tandai oleh kerusakan hutan bakau, abrasi pantai serta pendangkalan muara sungai yang berdampak pada aktivits lalu lintas perahu.

Tingkat abrasi yang terjadi di pantai selatan sekitar 35,35 ha/tahun dan di pantai utara sekitar 370,3 ha/tahun dengan indeks pencemaran air laut antara 7,391- 9,843 yang menunjukan sudah masuk pencemaran berat. ( Data ASER 2008 BPLHD ). Kebutuhan air sekarang untuk kebutuhan domestik, kosumsi industri, dan irigasi pertanian di perkirakan 17,5 milyar m3 pertahun, dan di perkirakan akan terus naik sekitar satu persen pertahun.

Permintaan air untuk irigasi sekitar 80% dari total permintaan air, meskipun angka ini di perkirakan berkurang dalam jangka panjang mengingat kebutuhan domestik, perkotaan dan industri tumbuh lebih cepat. Kebutuhan ini di penuhi dari sumber – sumber seperti air permukaan dari sungai di wilayah Provinsi Jawa Barat dan air tanah.Analisis terhadap 40 DAS di Jawa Barat mengindikasikan telah merosotnya fungsi hidrologis dari DAS tersebut yaitu, 14 DAS dari 22 DAS yang mengalir ke utara sudah dalam katagori sangat kritis, dan sisanya msuk katagori kritis.

Berdasarkan ketersediaan air mantapnya, maka ada lima DAS sudah termasuk tidak tersedia, termasuk memiliki ketersediaan air mantap. Di tinjau dari tingkat erosi lahanya, maka 15 DAS dari 22 DAS tersebut termasuk dalam katagori kritis. Dari tiga satuan Wilayah Sungai yang mengalir ke pantai utara, yang paling penting sebagai pemasok air adalah Citarum, namun kondisii kemantapan aliranya sudah semakin merosot seperti  halnya hamper semua DAS lainya. Muka air tanah ( water table ) di Cekungan Bandung telah mengalami penurunan setiap tahunnya.

Bandung adalah kota yang sangat rawan menghadapi masalah penyediaan air di masa yang akan datang, demikian pula masalah Cirebon memerlukan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kekeringan dan intrusi air laut. Permasalahan uatama di jawa barat pengelolaan sumber daya air baik air permukaan maupun air tanah adalah menurunnya kualitas dan ketidakseimbangan ketersediaan air. Ketersediaan air secara garis besar di tentukan oleh interaksi antara iklim, curah hujan dan kontur tanah yang melalui aliran air. Ketersediaan air di jawa barat pada musim penghujan mencapai sekitar 81,4 milyar m3 / tahun, sedangkan pada musim kemarau tinggal sekitar 8,1 milyar m3 / tahun.

Hal ini mengakibatkan potensi banjir pada saat musim penghujan dan kekurangan air pada musim kemarau ( Data ASER 2008 BPLHD ). Dari pantauan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum ( BPDAS ), menunjukan hulu DAS Citarum memiliki periode deficit air selama enam bulan yaitu Mei – Oktober dan periode surplus pada periode November – April.

Meskipun memiliki periode kondisi debit air Citarum yang surplus selama lima bulan, nyatanya bila di rata-ratakan dalam satu tahun wilayah ini masih mengalami deficit air hingga 85 mm/ tahun. Frekuensi banjir di Jawa Barat nampak semakin meningkat. Wilayah yang paling luas terkena banjir adalah kabupaten / kota di daerah dataran rendah dan pantai, khususnya indramayu dan karawang yang berada di hilir Sungai Citarum dan anak-anak sungainya, dan wilayah cirebon, yang berada di bagian hilir Sungai Cimanuk – Cisanggarung.

Sementara sepanjang musim penghujan terjadi banjir yang semakin serius dan meluas, tingkat infiltrasi dan retensi menurun karena berkaitan dengan kerusakan hutan dan erosi, dan berakibat semakin luas wilayah dan lamanya kekeringan. Kekeringan dan kekurangan air adalah salah satu permasalahan yangdi rasakan di sebagian daerah dataran tinggi, tapi yang paling luas adalah sepanjang pantai utara ( Data ASER 2008 BPLHD ).

Dan menurut data dari BPLHD Jabar penyebab banjir cekungan bandung adalah karena tekanan penduduk perubahan fungsi tutupan lahan hulu dan hilir, bangunan di sempadan sungai atau bedah air, sistim pengendalian air tidak memadai, draenase tidak memadai pengaruh geofisik sungai, kapasitas sungai atau badan air tidak memadai, penurunan tanah ( pengambilan air tanah ), dan bangunan benda melintang di atas sungai. Kondisi tersebut merupakan indikator  alih pungsi lahan yang semakin terpuruk dari tahun ke tahun. Tidak bisa tidak konservasi di kawasan lahan kritis harus di lakukan. Polutan tersbesar sungai Citarum adalah limbah domestic rumah tangga porsi buangan bahan organic itu bisa mencapai 60 persen.

Lainya berasal dari pertanian dan peternakan. Parameter polutan yang meningkat paling tajam di Sungai Citarum itu di antaranya bakteri coli asal tinja manusia. Kemarau tak hanya membuat air waduk melorot dan membuat putaran turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA ) Jatiluhur melemah. Karena debit air berkurang drastis, kualitasnyapun sangat merosot. Tahun 1994 air di waduk itu masih berwarna biru bening. Sekarang, yang ada adalah warna kuning keruh, terutama terlihat di sejumlah lokasi keramba, seperti di blok Tanggul Usman, Pasir Laya, dan Pasir Jangkung. Keruhnya air waduk terjadi sejak bermunculanya keramba, jarring-jaring terapung milik para petambak.

Pada waduk seluas 83 kilometer persegi itu tersebar 3.083 unit keramba milik 209 petambak. Dari ribuan keramba itu setiap tahun di keruk 16.869 ton ikan. Dan setiap hari, pemilik tambak menebar sekitar 10 ton pakan ikan. Dengan tebaran sebanyak itu, bagaimana mungkin air waduk bisa bening. Tak hanya membuat air jadi keruh berton-ton pakan ikan juga menyebabkan air waduk jadi bau amis. Padahal, danau buatan ini adalah sumber pengairan bagi sekitar 240 ribu hektare areal persawahan di wilayah Jakarta, Kabupaten / Kota di Bekasi, Karawang, Suabang, dan sebagian Indramayu.

Sebelum ada keramba, air waduk tak pernah berbau. Sungai Citarum juga menampung sulfur akibat aktivitas Gunung Paluha dan Tangkuban Perahu. Sungai ini sekaligus pula menjadi tempat pembuangan limbah dari sekitar 1.500 industri di cekungan Bandung, seperti Majalaya, Banjaran, Rancaekek, Dayeuh Kolot, Ujung Berung, Cimahi, dan Padalarang. Dari sini saja, Citarum harus menampung 280 ton limbah kimia onorganik setiap hari. Dari hasil penelitian yang di lakukan Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan ( PPSDAL ) bahwa kualitas air Waduk Saguling sudah di atas ambang normal. Kandungan merkuri ( Hg ), misalnya, meroket hingga menembus angka 0,236. padahal menurut standar baku mutu, angka aman adalah 0,002. logam merkuri itu menurut penelitian PPSDAL, berasal dari pakan ikan dan industri plastik. Sedangkan logam berast lainya berasal dari pabrik tekstil untuk proses pewarnaan kain.

Timbunan logam inilah yang akan menjadi Bom waktu. Sekarang air Waduk Saguling tidak layak lagi dimanfaatkan untuk kosumsi, pertanian, dan perikanan. Kondisi waduk Cirata, sekitar 35 kilometer dari Waduk Saguling, pun setali tiga uang. Badan Pengelola Waduk Cirata, pernah melakukan penelitian bersama Laboratorium Jatiluhur dan Laboratorium Higiene Industri dan Teksikologi Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung ( ITB ). Hasil penelitian pada bulan Juni lalu itu cukup mengejutkan.

Dari beberapa sempel ikan mas dan nila yang di ambil dari jarring apung petambak di Waduk seluas 6,200 hektare itu di temukan empat kandungan logam berat. Ke empatnya adalah timbel ( pb ) 0,6 part per million ( ppm ) zinc / seng ( zn ) 22,24 ppm, krom ( Cr ) 0,1 ppm, dan air raksa atau merkuri ( Hg ) 179,13 pertikel per berat badan ( ppb ). Tentu saja, selain virus pekatnya limbah ikut membuat ikan-ikan itu meregang nyawa. Bila ikan saja saja sudah tercemar lalu mati, memang sulit membayangkan bahwa air Waduk masih aman di konsumsi. Air Waduk Saguling dan Waduk Cirata kini tak lagi layak konsumsi, karena baku mutu air normal untuk minum sudah terlewati. Dan yang masih agak lumayan adalah air Waduk Jatiluhur, dengan posisi di hilir, Jatiluhur bernasib lebih baik karena air kotor dari hulu secara alamiah di tampung lebih dulu oleh Waduk Saguling dan Cirata. Hitung-hitungan yang di dapat dari 3 PLTA yang ada di aliran sungai citarum ternyata menghasilkan energi yang setara bahan baker minyak sebanyak 16 juta ton / tahun. Namun ada sekitar 4 juta meter kubik Lumpur masuk ke dalam Waduk Saguling.

Kemudian rata-rata tahunan sampah yang di saring oleh UBP Saguling mencapai 250.000 m3 tahun. Sejumlah sampah tersebut di saring agar tidak masuk ke dalam turbin pembangkit listrik. Tentunya proses penyaringanya sendiri memakan biaya yang tidak sedikit. Hasil penelitian lain dari BPLHD Jabar pada tahun yang sama menunjukan kualitas air Citarum masih dapat di gunakan dengan kualitas IV, yaitu hanya untuk penggunaan irigasi.

Hal tersebut berarti air sungai Citarum terutama di sekitar waduk Saguling sudah tidak dapat di gunakan untuk konsumsi air minum lagi.

**Rudy,Sanjaya,TarungNews**