Nasional

Sidang Mega Proyek Meikarta, Jaksa KPK Berang Atas Kesaksian Sekretaris Lippo

Selasa, 5 Februari 2019 | 04:28 WIB - by rjs,tarungnews.com - 247 pembaca

Lintas Jabar,TarungNews.com – Dalam lanjutan sidang suap mega proyek Meikarta kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan beberapa orang saksi yang di antaranya Melda Peni Lestari, selaku sekretaris Bartholomeus Toto, Presiden Direktur PT Lippo Cikarang.

Saksi Melda Peni Lestari, dalam kesaksianya membantah dan menyangkal atas semua pertanyaan Jaksa seperti ada keterkaitan dengan  terdakwa Henry Jasmen P.Sitohang, Konsultan Perizinan Proyek Meikarta, Melda, mengelak mengenal Henry.

” saya pernah ketemu Henry Jasmen, tapi saya tidak kenal apalagi berkomunikasi saya tidak pernah” kata Melda menjawab pertanyaan Jaksa dalam kesaksianya pada sidang lanjutan kasus suap mega proyek Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (4/2/2019).

Dan pada akhirnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari KPK Yadyn membuka transkrip rekaman percakapan pesan WhatsApp (WA)yang di tunjukan pada layar di persidangan  antara Melda dengan Henry, Henry menanyakan perihal 'paket' yang ada di Melda.

Dengan tegas jaksa menanyakan perihal paket kepada Melda, dan Melda,pun keukeuh dengan jawabanya bahwa saya tidak tahu, pada akhirnya Jaksa Yadyn dari KPK dengan sedikit berang mengatakan, saudari Melda sejak awal telah memberikan kesaksian bohong dan jaksa meminta Majelis Hakim untuk membuat penetapan (tersangka) terhadap saksi Melda Peni Lestari, selaku sekretaris Bartholomeus Toto Presiden Direktur PT Lippo Cikarang.

Dalam Dakwaan, Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin (terdakwa) menandatangani Keputusan Bupati Bekasi Nomor : 503.2/Kep.468-DPMPTSP/2017 tentang IPPT seluas 846.356 M2 untuk pembangunan komersial area, Apartemen, Pusat Perbelanjaan, Rumah Sakit, Sekolah, Hotel, Perumahan dan Perkantoran. Setelah IPPT di tandatangani, Neneng Hasanah Yasin kemudian memerintahkan agar E Yusup Taupik menghubungi Edi Dwi  Soesianto untuk menanyakan komitmen pengurusan IPPT.

Kemudian E Yusup Taupik menemui Edi Dwi Soesianto dan menyampaikan bahwa IPPT telah di tandatangani oleh Bupati Bekasi, dan menyampaikan bahwa Neneng Hasanah Yasin menanyakan komitmen uang sejumlah Rp 10.Miliar. Lalu Edi Dwi Soesianto menyampaikan pesan tersebut kepada Bartholomeus Toto dan Bartholomeus Toto menyetujui untuk memberikan uang sejumlah Rp 10.Miliar kepada Neneng Hasanah Yasin.

Atas persetujuan Bartholomeus Toto tersebut Edi Dwi Soesianto kemudian mengambil uang sejumlah Rp 10.500.000.000,- dari Melda Peni Lestari yang merupakan Sekretaris Direksi PT.Lippo Cikarang.

Rjs,tarungnews.com