Sabtu, 31 Oktober 2020 | 17:48 WIB



Berita Utama

AMBON MEMANG TOP

Sabtu, 26 September 2020 | 17:01 WIB - by Alam,tarungnews.com - 953 pembaca

Oleh: Agnes Marcellina                    

Ambon,TarungNews.com - Kota Ambon adalah Ibukota Provinsi Maluku dan merupakan kota terbesar di pulau tersebut.

Ambon merupakan kota pertama di Asia Tenggara yang dianugerahi sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO. Pemerintah Indonesia juga akan menetapkan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN).

Selain itu Ambon terkenal juga dengan pemandangan teluk-teluk dilautanya dan bukit-bukit sebagai keindahan alam tersendiri yang dimiliki kota Nyong Manise ini.

Disini, di kota Ambon pula Kementerian Kelautan Perikanan Republik Indonesia (KKP - RI) memiliki Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL), Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) dan Polytekhnik Kelautan Perikanan.

BPBL Ambon adalah Balai Ke- 4 yang saya kunjungi selain BPBL Sekotong, BPBL Lampung dan Balai Riset Pemuliaan Ikan Tawar Sukamandi dari sekian puluh balai yang dimiliki  Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dalam setiap kali kunjungan ke balai pasti banyak ilmu yang saya dapatkan selain juga pengalaman dan informasi yang ingin saya bagikan kepada sahabat di tanah air.

Selama ini keberadaan balai-balai tersebut sebagai pusat penelitian dan pengembangan budidaya belum terlalu terkomunikasikan dengan baik kepada publik yang tidak terafiliasi dengan dunia budidaya. Apalagi selama 5 tahun terakhir sejak 2015 keberadaan budidaya di tanah air nyaris tenggelam disebabkan oleh kebijakan top leader KKP saat itu yang senang “menenggelamkan” bukan hanya kapal asing tetapi kegiatan-kegiatan perikanan lainnya pun turut tenggelam termasuk disektor budidaya.

Namun demikian Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Bapak  Dr. Ir Slamet Soebjakto, M.Si yang belum lama ini menerima Tanda Kehormatan Jasa Pratama dari Presiden Joko Widodo atas jasa-jasanya dalam membangun sektor kelautan dan perikanan Indonesia, terus bekerja dan memberi semangat kepada jajarannya di DJPB selama massa “ditenggelamkan."

Melalui anggaran yang sangat sedikit di jaman tersebut, beliau tetap tidak patah semangat dan terus mengembangkan produk produk perikanan terutama yang dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dibidang perikanan.

Dalam menyemangati anak buahnya beliau selalu percaya bahwa akan tiba saatnya budidaya akan berjaya. 

"And the time has come..." Menteri KKP - RI saat ini, Edhy Prabowo memahami betul bahwa  Budidaya adalah Masa Depan. Keberlangsungan aneka hayati laut tidak bisa mengandalkan dari alam saja tetapi untuk menjaga keberlangsungan maka tidak ada jalan lain bahwa budidaya harus kuat.

Menteri Edhy Prabowo sangat mendorong sektor budidaya dengan menambah anggaran, mengajak milenial dan pelaku usaha kecil untuk usaha tambak udang dan menyediakan permodalan lewat BLU (Badan Layanan Umum) dengan bunga sangat rendah 3%, segala bentuk perizinan yang menyulitkan dipangkas termasuk berkoordinasi dengan kementerian lain.

Semuanya dibuat menjadi lebih mudah, Pro Bisnis, Pro UMKM, Pro Nelayan, Pro Budidaya, Pro Lingkungan Hidup tetapi tetap dengan tegas menangkap penyelundup dan pelaku usaha yang tidak mengikuti prosedur. 

Targetnya adalah dalam 5 tahun mendatang Edhy Prabowo akan memberikan legacy bahwa sektor perikanan dapat memberikan kontribusi kepada negara dan rakyat. 

Dalam Kunjungan Kerja Menteri KKP - RI bersama dengan jajaran belum lama ini ke Nusa Tenggara Timur (NTT) -Maluku - Kalimantan Tenggara (Kaltra) pada 28 Agustus sampai 2 September 2020 yang lalu, salah satu titik kunjungan adalah ke Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon yang terletak di tengah kota Ambon dengan pemandangan laut yang sangat indah.

Landscape kota Ambon berbukit-bukit sehingga dari BPBL terlihat bagian sudut lain kota Ambon yang saat malam hari sangat indah dengan kerlap-kerlip lampu dari perumahan penduduk. Sungguh suasana yang mengingatkan saya pada Tasmania yang juga landscapenya mirip dengan kota Ambon. Sungguh manise….

Produk unggulan di BPBL Ambon ini adalah Clown Fish atau sering kita sebut ikan Nemo. Ikan Nemo sudah berhasil cross breeding dan saat ini ada 25 jenis hybrid ikan Nemo dengan 10 jenisnya dihargai sampai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per ekor. Ikan jenis ini diminati untuk diexport ke berbagai negara. BPBL Ambon juga sudah melakukan pelatihan kepada ibu-ibu PKK agar bisa melakukan pendederan di rumah dan hasilnya bisa menambah ekonomi keluarga. 

Produk unggulan lain adalah ikan Bubara atau dikenal dengan nama ikan Kuwe atau Trevally. Benih yang biasanya tangkapan alam sudah bisa diproduksi massal sehingga menjadi konsumsi yang murah untuk sumber protein masyarakat. Begitu pula dengan kakap putih/Barramundi, pembesaran Lobster sedang diujicobakan dan berhasil menetaskan telur menjadi larva sampai dengan 15 hari.

Masih harus terus dilakukan uji coba untuk bisa mencapai keberhasilan. 

Hal baru yang saya temukan di BPBL Ambon ini adalah pengembangan teknik kultur jaringan phythoplankton dalam ruangan. Teknik ini bisa untuk menyediakan nutrisi untuk ikan sebagai sumber makanan. Ada juga kultur jaringan rumput laut sebagai pemasok benih rumput laut untuk nelayan budidaya rumput laut yang jumlahnya cukup banyak di Maluku. Wah… ternyata hebat ya BPBL Ambon ini… 

Berkeliling balai bersama bapak Juniyanto sebagai Kepala BPBL Ambon dan bapak Dirjen, Slamet Soebjakto selama beberapa jam saya serasa memasuki dunia Fishery Kingdom dengan bahasa-bahasa dunia biologi yang harus saya tanyakan berkali-kali itu artinya apa.

Para ahli dibidangnya tersebut sangat berharap bahwa apa yang mereka kerjakan selama ini dan saat ini bisa bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, penelitian dan usaha di bidang kelautan dan perikanan Indonesia yang pada akhirnya akan membuat rakyat sejahtera. 

Silahkan manfaatkan balai-balai yang ada di KKP baik itu untuk belajar, wisata perikanan, mitra kerja usaha dan lain-lain. 

Alam,tarungnews.com