• Selasa, 15 Juni 2021

Sampah Mengancam Butuh Kolaborasi DLHKP, Dan Manajemen Tata Kelola Sampai Tingkat Pemerintah Desa

Sampah Mengancam Butuh Kolaborasi DLHKP, Dan Manajemen Tata Kelola Sampai Tingkat Pemerintah Desa TPU yang berubah menjadi TPS Puluhan makam di Cihuni - Citangtu Tertimbun oleh sampah. DOK tarungnews.com

Oleh Alam Kepala Biro tarungnews.com Kab. Garut

Product modernisasi yang serba instan terutama sektor konsumsi masyarakat mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga jajanan berkonsekwensi pada tingginya volume limbah/sampah yang beredar dilingkungan permukiman (perkotaan dan pedesaan) serta menjadi ancaman lingkungan hidup maupun kesehatan masyarakat.

Persampahan dilingkungan pedesaan di tingkat Kabupaten Garut (khususnya) masih semrawut, alur limbah rumah tangga belum bisa terelokasi secara tepat.

Berdasar pantauan tarungnews.com dilapangan, secara umum hal tersebut terjadi karena memang belum ada tata kelola yang baik dari pemerintahan desa dan belum tersedia tempat relokasi sampah yang representatif untuk digunakan masyarakat, sehingga kebanyakan masyarakat pun terpaksa membuang limbah rumah tangga ke tempat yang bukan peruntukannya.

Sektor pariwisata menjadi jargon kabupaten Garut. Dengan keadaan sampah yang berserakan dan bertumpuk ditempat yang tidak etis sehingga pariwisata yang identik dengan kebersihan dan keindahan menjadi ironis adanya dengan keadaan sampah yang masih berserakan tak sedap untuk pemandangan.

Dimana-mana sampah menjadi permasalahan lingkungan yang pelik dan menjadi penentu bagi terciptanya kebersihan dan keindahan juga berkonsekwensi bagi kesehatan, yang mana sampah yang tidak terkelola dengan baik ini akan menjadi sarang dan bibit penyakit.

Pemberdayaan sampah masih dipandang sebelah mata, padahal sampah memiliki prospek yang cerah dengan faedah-faedah yang berdampak luas. Untuk itu perlu keterlibatan UKM juga keterlibatan pemerintah untuk melakukan pembinaan pemberdayaan limbah organik dan anorganik, mulai pengolahan dari pengolahan limbah, sampah menjadi berbagai product craft dan daur ulang juga pengelolaan limbah menjadi pupuk organik yang bermanfaat guna memulihkan kesuburan dan Ph tanah.

Untuk terwujudnya hal tersebut butuh kolaborasi lintas instansi antara pihak yang berwenang dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Garut dengan pihak terkait dalam hal ini Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disparbud), PUPR-PERKIM, Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Koperasi, UKM/craft, DISPERINDAG ESDM, Dinas Pertanian, DPMD yang mana kolaborasi tersebut terintegrasi pada satu kebijakan tata kelola sampah di kabupaten Garut.

Tata kelola sampah bukan hanya mengatur alur relokasi sampah dari limbah rumah tangga ke lokasi tempat penampungan sementara (TPS) saja, tapi minimalisir sampah bertumpuk yakni melalui pemberdayaan limbah, sehingga alur sampah dapat terkoreksi dengan baik dan berkonsekwensi pada pembangunan lingkungan hidup juga pembangunan masyarakat (sumber daya manusia).

Tata kelola sampah harus termanajemen sampai tingkat pemerintah desa sehingga hal itu berkonsekwensi menekan dan mengurai beban volume di TPA.

Bagikan melalui:

Komentar