Kamis, 27 Februari 2020 | 06:32 WIB



Budaya dan Pariwisata

Kepunahan Badak Sumatera, Mata Dunia Kini Tertuju ke Indonesia

Selasa, 4 Juni 2019 | 00:52 WIB - by Dar,tarungnews.com - 519 pembaca

Kertam, badak sumatera subjenis Kalimantan [Dicerorhinus sumatrensis harrisoni] yang berada di BORA [Borneo Rhino Alliance], Taman Nasional Tabin, Sabah, Malaysia, mati pada 27 Mei 2019

Faktor umur [30] diyakini penyebab satwa yang telah berada di penangkaran sejak 2008 ini mati

Dua tahun sebelumnya, Puntung, badak sumatera betina yang berada di Sabah, Malaysia, di BORA juga, mati pada 4 Juni 2017. Kini hanya tersisa Iman, badak betina di BORA

Badak sumatera di alam, kini hanya tersisa di Indonesia, diperkirakan tidak lebih 100 individu. Rencana Aksi Darurat [RAD] Penyelamatan Badak Sumatera yang telah ditetapkan Dirjen KSDAE, Wiratno, Nomor: SK.421/KSDAE/SET/KSA.2/12/2018, pada 6 Desember 2018, harus segera dijalankan

TarungNews.com - Kertam, badak sumatera subjenis Kalimantan [Dicerorhinus sumatrensis harrisoni] yang berada di BORA [Borneo Rhino Alliance], Taman Nasional Tabin, Sabah, Malaysia, mati pada 27 Mei 2019. Badak jantan usia 30 tahun tersebut, sejak akhir April menujukkan tanda-tanda penurunan nafsu makan.

“Dengan berat hati kami katakan, Tam, badak sumatera terakhir di Malaysia telah mati,” jelas pihak BORA melalui akun Facebook.

Mengutip The Strait Times, disebutkan bahwa Tam menderita kerusakan organ dalam tubuh. “Faktor umur juga diyakini penyebab satwa yang telah berada di penangkaran sejak 2008 ini mati,” ungkap Augustine Tuuga, Sabah Wildlife Department Director.

Cerita sedih Tam, melengkapi duka dua tahun silam. Puntung, badak sumatera betina yang berada di Sabah, Malaysia, di BORA ini juga, mati pada 4 Juni 2017. Kanker sel squamosa menyebabkan badak 25 tahun ini harus meninggalkan Bumi lebih cepat.

Kini tersisa Iman, badak betina, seorang di penangkaran BORA yang menderita tumor di uterus.

Badak Sumatera di Malaysia

Periode 90-an, badak sumatera di Malaysia diperkirakan sekitar 200 individu, tersebar di Semenanjung Malaysia dan Sabah. Khan [1987] melaporkan, badak sumatera di Semenanjung Malaysia tersebar di 14 lokasi dengan taksiran jumlah antara 51-86 individu. Sedangkan Abdullah [1985] melaporkan hasil survei yang dilakukannya pada 1974-1981 di Semenanjung Malaysia berkisar 50-75 individu.

Populasinya terkonsentrasi di Endau Rompin [20-25 individu], Taman Negara [8-12 individu], dan Sungai Dusun Wildlife Reserve [4-6 individu]. Sisanya, tersebar di Gunong Belumut, Mersing Coast, Ulu Lepar, Sungai Depak, Kuala Balah, Bukit Gebok, Krau Wildlife Reserve, Ulu Selama, Ulu Belum, dan perbatasan Kedah.

Di Sabah, populasi badak sumatera sebagaimana dilaporkan Andau [1987] berada di Tabin Wildlife Reserve. Jumlahnya tidak lebih 20 individu, termasuk yang tersebar di beberapa tempat di luar suaka margasatwa tersebut.

Badak pertama yang ditangkap untuk penangkaran [captive breeding] adalah Dusun. Seperti namanya, ia ditangkap di Sungai Dusun, Semenanjung Malaysia, pada 9 September 1986.

Penangkaran badak sumatera di Malaysia awalnya dibangun di Sungai Dusun Wildlife Reserve dan Zoo Melaca. Ada 6 individu yang diselamatkan, 5 betina dan satu jantan muda. Namun, jantan muda ini mati setelah dilahirkan induknya yang sewaktu ditangkap bunting [Khan, 1987].

Penangkaran badak di Sungai Dusun tidak diteruskan, selain badak yang diselamatkan dari Semananjung Malaysia tidak ada lagi di alam, badak yang dipelihara juga mati satu persatu akibat penyakit tripanosoma yang berasal lalat. Diduga pula, kematian tersebut akibat sanitasi kurang baik, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan serius terhadap badak di penangkaran.

Bagaimana kabar badak Dusun? Dia dikirim ke Sumatran Rhino Sanctuary, Way Kambas, Lampung, sebagai badak betina ketiga yang masuk penangkaran, berdasarkan pertukaran Malaysia dan Indonesia pada 1987. Tujuannya, menyelamatkan badak sumatera dari ancaman kepunahan. Dusun hanya bertahan di SRS selama 3 tahun, mati pada 7 Februari 2001 karena penyakit degenerasidan senilitas [penuaan].

Selain itu, ada juga badak betina yang dikirim ke Kebun Binatang Dusit, Thailand. Namun, tidak lama mati akibat gangguan pencernaan, akibat pakan yang tidak sesuai. Badak tersebut diberi kacang-kacangan, pisang, kentang, dan beberapa jenis daun [Meckvichai, 1987].

Hanya Indonesia

Badak sumatera di alam, kini hanya tersisa di Indonesia, diperkirakan tidak lebih dari 100 individu. Di Sumatera tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, dan Way Kambas. Khusus di Kerinci Seblat, sudah tidak ditemukan lagi jejaknya sejak 2011. Di Kalimantan Timur, diperkirakan tersisa kurang 15 individu. Itu pun perkiraan terlalu optimis.

Kondisi nyatanya adalah, ada satu badak betina bernama Pahu di SRS Hutan Lindung Kelian Lestari, Kalimantan Timur, yang memerlukan jantan untuk dikawinkan. Sementara di SRS Taman Nasional Way Kambas, Lampung terdapat 7 individu badak [3 jantan dan 4 betina].

Bila dilihat sejarah penyelamatan badak, upaya ini memang cukup panjang dengan tingkat keberhasilan minim. Sejak 1982, para ahli dari mancanegara telah berdiskusi meningkatkan populasi badak di alam.

Pada 1993, perkiraan populasi optimis menyatakan, total populasi badak sumatera di dunia diperkirakan ada 400 individu. Namun, para ahli pada pertemuan 2014 di Singapura sepakat, populasinya justru kurang dari 100 individu. Melalui perdebatan khusus, jika memperkirakan populasi batas minimum, mungkin badak tersisa hanya 30 individu di alam.

Penyelamatan badak sumatera dari ancaman kepunahan, kini ada di tangan Pemerintah Indonesia. Inisiatif aksi penyelamatan, kerja sama internasional, dan penggalangan dana perlu digalakkan.

Harapan penyelamatan badak sumatera tidak dipungkiri berada di pusat penangkaran, seperti di SRS Taman Nasional Way Kambas. Program ini pun perlu dipadu-serasikan dengan potensi-potensi varietas genetik dari individu-individu yang tersisa di Leuser Timur, Bukit Barisan Selatan, Kalimantan Timur; bahkan di Sabah sekalipun meski hanya tersisa sperma dari badak Kertam.

Rencana Aksi

Kematian Kertam perlu segera disikapi Pemerintah Indonesia yang telah memiliki Rencana Aksi Darurat [RAD] Penyelamatan Badak Sumatera yang telah ditetapkan Dirjen KSDAE, Wiratno, Nomor: SK.421/KSDAE/SET/KSA.2/12/2018, pada 6 Desember 2018.

Badak Pahu tidak bisa menunggu jantan dari alam. Paling tidak, satu jantan badak sumatera, Harapan atau Andalas dari SRS di Way Kambas dikirimkan ke SRS di Hutan Lindung Kelian Lestari, untuk dikawinkan.

Pemikiran lain adalah sperma Tam yang tersimpan baik, jika diperhitungkan memungkinkan dapat menghamili Pahu atau badak betina lainnya yang ada di SRS Way Kambas, perlu dijajaki. Ini kesempatan bersama Indonesia dan Malaysia menyelamatkan badak sumatera dari kepunahan. Kerja sama yang pernah dimulai sejak 1987 dan kini bisa dijalin kembali komunikasinya.

Rencana aksi harus dilakukan melalui sejumlah langkah:

  1. Realisasi kerja sama dengan Malaysia, memanfaatkan sperma Kertam menggunakan teknologi tingkat tinggi agar dapat menghamili badak Pahu atau salah satu badak betina yang ada di SRS Way Kambas
  2. IUCN berperan sebagai fasilitator antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia. Dapat juga sebagai negosiator dengan multidonor dari multipihak dalam upaya penyelamatan badak sumatera dari ancaman kepunahan
  3.  Pembangunan SRS di Aceh perlu direalisasikan segera untuk menyelamatkan badak sumatera yang berada di luar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Lacak dan tangkap badak yang terdesak karena kerusakan habitat. Jika SRS di Aceh belum siap, badak yang ditangkap dititipkan di SRS Way Kambas
  4. Pelacakan jejak keberadaan badak di Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Mahakam Ulu, Kantong Populasi 1, harus ditingkatkan. Jika keberadaannya diketahui, segera lakukan penangkapan, lalu dikirim ke SRS di Hutan Lindung Kelian Lestari
  5. Upaya penyelamatan badak di alam lebih dari setengah abad hasilnya tidak memuaskan. Memperbanyak kelahiran badak semaksimalkan melalui SRS, Sumatera dan Kalimantan, demi memunculkan variasi genetik yang lebih kaya dan kuat dapat dipikirkan
  6. Perlindungan populasi alami di area konsentrasi, perlu ditingkatkan. Anggota Rhino Protection Unit yang sudah ada sejak 1995, perlu dilakukan regenerasi, sehingga mempunyai kemampuan sesuai kemajuan teknologi. Begitu pula tenaga-tenaga keeper dan veteriner yang ada di SRS, perlu ditingkatkan terus kemampuannya
  7. Pemerintah harus memiliki komitmen kuat untuk pendanaan penyelamatan badak sumatera. Khususnya, membangun infrastruktur di pusat penangkaran [SRS] di Sumatera maupun Kalimantan
  8. Rencana Aksi Darurat yang sudah ditetapkan Dirjen KSDAE periode 2018-2021, jika diperlukan direvisi, dengan menjadwal ulang rencana aksi termasuk pendanaan
  9. Pemerintah Indonesia harus memiliki komitmen kuat, khususnya mengkonsolidasikan para-mitra, nasional maupun internasional, agar penyelamatan badak sumatera dapat direalisasikan cepat dan terukur. Sehingga, kepunahan tidak terjadi seperti di negara-negara lain yang dahulu merupakan daerah sebaran badak sumatera

Referensi:

Andau, M. 1987. Conservation of the Sumatran Rhinoceros in Sabah, Malaysia. Rimba Indonesia Vol. XXI No. 1 (39-47).

Abdullah, M.T. 1985. Sumatran Rhinoceros Conservation Plan for the Endau Rompin Nastional Park, Malaysia. West Virginia University in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Master of Science in Wildlife Management. Morgantown, West Virginia.

Atmawidjaja, R. 1987. Country Report-Indoneia. Rhino Management in Indonesia. Rimba Indonesia. Vol. XXI No. 1 (70-74).

Khan, Mohd. Bin Momin Khan. 1987. Country Report-Malaysia. Distribution and Population of the Sumatran Rhinoceros Dicerorhinus sumatrensis in Peninsular Malaysia. Rimba Indonesia Vol. XXI No. 1 (75-82).

Meckvichai, C. 1987. On the Status of the Sumatran Rhino in Captivity in Thailand. Rimba Indonesia Vol. XXI No. 1 (57-58).

Ministry of Forestry the Republic of Indonesia. 2007. Strategy and Action Plan for the Conservation of Rhinos in Indonesia 2007-2017. Jakarta.

Sadjudin, H.R. 2017. Way Kambas, Benteng Terakhir Badak Sumatra. Dalam: Detak Konservasi Sumatra. Rupa Daya di Lantai Hutan Tersisa (Syafrizaldi Jpang-Editor). PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Haerudin R. Sadjudin, Peneliti badak senior, lebih 40 tahun terlibat program konservasi badak di Indonesia

Sumber : Mongabay Indonesia

Dar,tarungnews.com