• Sabtu, 16 Oktober 2021

Sidang Lanjutan Walikota Cimahi, Saksi Katakan ada Uang Ratusan Juta Mengalir ke Oknum KPK

Sidang Lanjutan Walikota Cimahi, Saksi Katakan ada Uang Ratusan Juta Mengalir ke Oknum KPK Sidang lanjutan perkara tipikor yang menyeret nama Walikota Non aktif Ajay M.Priatna di Pengadilan Negeri Bandung Kls 1A Khusus Bandung Senin (19/4/2021). Photo istimewa

Bandung,TarungNews.com – Pada sidang lanjutan perkara tipikor yang menyeret nama Walikota Non aktif Ajay M.Priatna di Pengadilan Negeri Bandung Kls 1A Khusus Bandung. Dalam persidangan kali ini Sekreataris Daerah Kota Cimahi, Dikdik Suratno Nugrahawan di hadirkan sebagai saksi dan mengatakan di hadapan Majelis Hakim bahwa ada uang mengalir ke oknum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari terdakwa Walikota Cimahi Ajay M. Priatna, Senin (19/4/2021).

Dalam sidang kasus tipikor Majelis Hakim yang diketuai I Dewa Gede Suharditha, telah tengungkap keterangan penting dari saksi yaitu Sekda Kota Cimahi Dikdik Suratno Nugrahawan tentang uang dari Ajay mengalir ke seseorang bernama Roni yang mengaku aparat dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam sidang lanjutan korupsi dengan terdakwa Ajay M. Priatna (19-04- 2021), di hadapan Majelis Hakim yang diketuai IDewa Gede Suharditha, Sekda Kota Cimahi Dikdik Suratno Nugrahawan. mengungkap keterangan penting tentang uang dari Ajay mengalir ke seseorang bernama Roni yang mengaku aparat dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Dari penuturan Ajay M Priatna, uang itu untuk disetorkan ke oknum KPK,” ujar Dikdik dalam kesaksianya, Dikdik juga mengatakan permintaan pengumpulan uang itu tidak terkait dengan lelang jabatan. Tapi dia meminta agar tidak memakai uang APBD, tapi secara sukarela. “Beliau sendiri yang bilang jangan uang dari APBD, tapi sukarela,” ungkap Dikdik.

 “Akhirnya terkumpul sekitar Rp 200  juta (dua ratus juta rupiah). Yang serahkan bukan saya, tapi Ahmad Mulyana,” kata Dikdik menjawab pertanyaan Hakim.

Hakim ketua I Dewa Gede Suarditha juga menanyakan kepada tim JPU KPK, terkait Ahmad Mulayana apakah dijadikan saksi atau tidak. JPU KPK Budi Nugraha pun membenarkan jika yang bersangkutan akan dihadirkan ke persidangan sebagai saksi. Usai persidangan Ajay pun membenarkan semua keterangan saksi Dikdik Suratno. Dia pun tidak menampik soal orang KPK yang mendatanginya dengan meminta sejumlah uang.

Ajay mengaku tidak tahu detail orangnya, namun namanya Roni dia datang mengaku sebagai orang KPK dengan segala legalitasnya. Yang pada akhirnya orang tersebut meminta sejumla uang.

“Kebetulan saat itu daerah sebelah kami (KBB) tengah hangat-hangatnya diperiksa KPk soal kasus bansos (Covid). Dia datang ke kami bilang urusan Bansos, dia minta Rp 5 miliar. Namun saya bilang kalau segitu silahkan bapak-bapak periksa siapapun boleh,” katanya.

Namun setelah dilakukan negoisasi akhirnya terjadi kesepakatan di angka Rp 500 juta. Bahkan Ajay mengaku hasil chatnya dengan Roni masih ada dan sempat diberikan ke penyidik KPK saat dirinya diperiksa.

Ajay M. Priatna diadili dengan telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga dipandang sebagai perbuatan berlanjut yang menerima hadiah atau janji yaitu terdakwa menerima hadiah berupa uang secara bertahap sejumlah total Rp 1.661.250.000, ujar Penuntut Umum KPK Budi Nugraha saat membacakan dakwaan.

Menurut Penuntut Umum KPK, uang Rp 1,6 tersebut diberikan kepada Ajay secara bertahap. Uang tersebut diberikan dari Hutama Yonathan selalu Direktur Utama PT. Mitra Medika Sejati sekaligus pemilik RSU Kasih Bunda.

Menurut KPK, uang miliaran rupiah itu diberikan kepada Ajay dengan maksud agar proyek pengembangan RSU Kasih Bunda itu tidak dipersulit oleh Ajay yang kala itu menjabat sebagai Wali Kota Cimahi.

Penuntut Umum KPK lalu mendakwa Ajay dengan Pasal 12 huruf a Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana sebagaimana Dakwaan Pertama dan Pasal 12 B UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Tipikor Jo. Pasal 65 ayat (1) KUHPidana sebagaimana Dakwaan Kedua.

Rjs,tarungnews.com

 

Bagikan melalui:

Komentar