• Jumat, 1 Mei 2026

KDM Bicara Terkait Dampak Proyek Giant Sea Wall di Pantura Dalam Talkshow di Kementerian KKP

KDM Bicara Terkait Dampak Proyek Giant Sea Wall di Pantura Dalam Talkshow di Kementerian KKP Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dalam Talkshow di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Rabu (25/6/2025). (ist)

Jakarta,TarungNews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyebut pembangunan tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall/GSW) di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat bukan sekadar proyek infrastruktur beton. Dedi mengatakan konsep tanggul laut semestinya dilihat sebagai sistem perlindungan terpadu yang juga melibatkan alam.

"Bicara Giant Sea Wall ya, jadi kerangka pemahaman saya bukan hanya benteng, tetapi adalah hamparan pohon mangrove itu adalah bagian dari Giant Sea Wall itu sendiri, karena rob akan tertahan, banjir laut akan tertahan," kata Dedi dalam Talkshow di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Rabu (25/6/2025).

Pembangunan Giant Sea Wall dikhawatirkan bentrok dengan proyek revitalisasi tambak di Pantura, Jawa Barat. Proyek senilai Rp26 triliun itu menyasar 20.413,25 hektare di 4 kabupaten Jabar, yakni Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu.

Bahkan, Danantara yang langsung berinvestasi dalam proyek tambak nila salin tersebut. Volume produksinya diperkirakan bisa mencapai 1,18 juta ton dengan nilai Rp30,65 triliun. Di lain sisi, revitalisasi tambak Pantura itu diklaim mampu menciptakan lapangan kerja untuk 119.100 orang.

Sementara Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa proyek GSW tidak akan mengganggu revitalisasi tambak yang telah berjalan.

“Giant Sea Wall tidak akan mengganggu pembangunan atau revitalisasi tambak Pantura. Misi utama revitalisasi justru adalah memperbaiki lingkungan yang rusak,” jelasnya.

Ia menyebut revitalisasi tambak Pantura bertumpu pada tiga pilar: perbaikan ekologi pesisir, penciptaan lapangan kerja lewat industri nila salin terintegrasi, serta hilirisasi produk perikanan.

“Kita berharap dunia usaha berperan aktif dalam rantai nilai ini,” ujar Trenggono.

"Giant Sea Wall itu adalah satu pembangunan tanggul laut raksasa, tapi tentu tetap mempertimbangkan soal lingkungan. Jaraknya tentu sudah dihitung dari garis pantai yang sekarang. Itu untuk menahan arus, salah satunya, sekaligus juga ada investasi di sana. Lalu, ada infrastruktur di dalamnya, seperti untuk jalan dan seterusnya," tandasnya.

Red,tarungnews.com

 

Bagikan melalui:

Komentar