• Minggu, 13 September 2026

Ini Alasan KDM Ubah Sekolah Favorit Jadi Sekolah Manusia Unggul (Maung)

Ini Alasan KDM Ubah Sekolah Favorit Jadi Sekolah Manusia Unggul (Maung) Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ungkapkan alasan rencana mengubah sejumlah sekolah negeri favorit menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung). Istimewa

Bandung,TarungNews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ungkapkan alasan rencana mengubah sejumlah sekolah negeri favorit menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung). Menurutnya, kualitas sekolah unggulan di Jawa Barat terus mengalami penurunan sejak sistem zonasi diterapkan secara luas.

Sebanyak 41 sekolah negeri di Jawa Barat telah dipilih sebagai pusat pengembangan Sekolah Maung. Komposisinya terdiri dari 28 SMA dan 13 SMK yang ditargetkan mulai berjalan pada tahun ajaran 2026/2027. Di Kota Bandung, dua sekolah elite yang masuk program itu adalah SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung.

Dedi Mulyadi yang akrab di sapa KDM mengatakan, sekolah-sekolah unggulan sebenarnya sudah lama menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan di Jawa Barat. Namun, kualitasnya perlahan menurun dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: https://www.tarungnews.com/berita-foto/19894/empat-keraton-di-cirebon-akan-direvitalisasi-dan-bakal-dibangun-plataran-caruban.html

"Yang lahiran tahun 90-an pasti tahu. Setiap kabupaten/kota itu pasti ada sekolah favorit, biasanya SMA 1. Kalau di Bandung, SMA 3 dan SMA 5. Seiring dengan waktu, dengan diberlakukan zonasi, tingkat kualifikasi sekolah terus mengalami penurunan tajam," kata KDM, Rabu (13/5/1026).

KDM juga menjelaskan, mendapat masukan langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah terkait kondisi sekolah unggulan di Jawa Barat saat ini yang disebut telah mengalami penurunan.

"Sebagai bahan kajian, kemarin Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan pada saya, di Jawa Barat sekolah yang punya kualifikasi sebagai sekolah unggul itu tinggal SMA 3. Yang lainnya sudah didominasi swasta," ujarnya.

BACA JUGA: https://www.tarungnews.com/berita-foto/19876/kirab-budaya-milangkala-tatar-sunda-jadi-penguat-nilai-budaya-dan-warisan-leluhur.html

Menurut KDM, penurunan kualitas itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari daya dukung sekolah, pembiayaan, hingga kualitas akademik siswa yang masuk.

"Kenapa terjadi penurunan itu? Karena daya dukungnya semakin menurun, pembiayaan mengalami penurunan, kualifikasi murid yang masuk mengalami penurunan akademis," ujarnya.

KDM bahkan menyinggung munculnya berbagai persoalan disiplin di sekolah yang dulu dikenal unggulan. "Bahkan, misalnya di sekolah favorit dulu SMA 1 Purwakarta, ada peristiwa yang menarik ya, di mana murid mengolok-olok guru. Itu kan salah satu juga problem yang dihadapi," tuturnya.

BACA JUGA: https://www.tarungnews.com/berita-foto/19835/pemkot-bandung-dukung-penuh-kebijakan-pemprov-jabar-terkait-larangan-penebangan-dan-pemangkasan-pohon-produktif.html

KDM pun menilai, jika kondisi itu terus dibiarkan, sekolah negeri unggulan akan kehilangan daya saing dan hanya sekolah swasta mahal yang menjadi pilihan kelompok masyarakat tertentu.

"Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD," tegasnya.

"Kenapa? Karena mereka akan mulai bersekolah di sekolah-sekolah yang berkualitas. Kemudian tingkat kemampuan siswa masuk ITB dari SMA 3, silakan dicek, mengalami penurunan. Tajam penurunannya, ini kan perlu bahan kajian komprehensif," pungkasnya.

tarungnews.com

 

Bagikan melalui:

Komentar