Subang,TarungNews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi melakukan inspeksi mendadak ke fasilitas perakitan mobil listrik VinFast di Kabupaten Subang. Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi pria yang akrab di sapa KDM mengevaluasi berbagai aspek strategis, mulai dari logistik transportasi, transparansi ketenagakerjaan, inovasi pemberdayaan sopir taksi, hingga mengklarifikasi isu keamanan kendaraan listrik yang sempat viral di masyarakat.
Dalam inspeksinya KDM menyoroti, manajemen logistik pabrik. Ia menegaskan agar truk-truk transporter berkapasitas besar milik perusahaan wajib menggunakan akses jalan tol (keluar via Gerbang Tol Kalijati) dan tidak menggunakan jalur arteri agar tidak memicu kemacetan atau merusak fasilitas jalan raya.
KDM juga meminta agar lingkungan di sekitar kawasan industri ditata dengan rapi, tidak kumuh, dan dilengkapi fasilitas tempat duduk bagi para pekerja yang sedang menunggu jemputan atau beristirahat.
Terkait isu ketenagakerjaan, KDM berdialog dengan pihak HRD untuk memastikan proses rekrutmen berjalan bersih dan adil. Pihak pabrik mengonfirmasi bahwa seluruh rekrutmen kini terintegrasi secara online melalui aplikasi “Nyari Gawe” milik pemerintah. KDM memberikan peringatan keras agar tidak ada lagi praktik nepotisme atau “titipan” dari tokoh masyarakat maupun pihak dalam.
“Saya khawatir si A pegang 20 orang, si B pegang sekian orang karena merasa tokoh. Enggak boleh, semua harus masuk proses online berdasarkan profesionalisme,” tegas KDM pada Kamis (15/10/2026).
Mengingat tingginya animo masyarakat (200.000 pendaftar untuk kebutuhan 8.000 pekerja tahun depan).
KDM juga menggagas kerja sama pelatihan pra-kerja antara pabrik dan SMK setempat agar lulusan sekolah di Jawa Barat siap kerja dan langsung terserap tanpa harus gugur di masa percobaan.
Saat meninjau lini produksi, KDM merasa bangga karena mayoritas pekerja didominasi oleh anak muda lulusan SMK dari berbagai daerah di Jawa Barat (Subang, Karawang, Cirebon, Majalengka, Garut) dengan gaji bersih di atas UMK rata-rata, yakni Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per bulan.
Melihat lini produksi armada taksi listrik yang sedang dirakit, KDM melontarkan gagasan progresif untuk menyejahterakan para sopir. KDM mengusulkan skema Business to Business (B2B) yang melibatkan pendanaan dari bank bjb agar para sopir taksi kelak tidak lagi bekerja dengan sistem setoran kepada perusahaan, melainkan mencicil untuk memiliki mobil taksi tersebut.
“Selama ini orang taksi itu kerja dan nyetor ke bos. Ke depan, dia sebagai tuan, difasilitasi kredit tanpa DP oleh bjb. Ini merubah sosialisme, dari pekerja menjadi pemilik, dari budak jadi tuan,” ucap KDM yang berencana menjadikan Depok dan Cianjur sebagai daerah percontohan armada taksi angkot listrik ini.
089,tarungnews.com